Buku ada pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1G0-Jf0hqBGoEK-EPY0Nb_FjVYZ9vuutE/view?usp=sharing
jurnalstikendal
Rabu, 07 September 2022
Selasa, 09 Oktober 2018
”PENINGKATAN NILAI HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION) DIBANTU MEDIA FILM PADA MATERI MENELADANI PERJUANGAN DAKWAH RASULULLAH SAW DI MADINAH DI KELAS X BUSANA BUTIK 1 SMKN 1 KENDAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016”. (oleh : Drs. H. Mukhamad Umar, M.S.I. Guru PAI SMKN 1 Kendal Jawa Tengah)
”PENINGKATAN NILAI HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DAN BUDI PEKERTI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT
INSTRUCTION) DIBANTU MEDIA FILM PADA
MATERI MENELADANI PERJUANGAN DAKWAH RASULULLAH SAW DI MADINAH DI KELAS
X BUSANA BUTIK 1 SMKN 1 KENDAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016”.
(oleh : Drs. H. Mukhamad Umar, M.S.I. Guru
PAI SMKN 1 Kendal Jawa Tengah)
A.
Latar
Belakang Masalah
Nabi Muhammad saw. adalah
figur dan teladan sempurna bagi seluruh umat manusia. Dengan keteladanannya, ia
mampu merubah bangsa Arab yang pada awalnya sebagai bangsa Baduwi yang
terbelakang, biadab, tidak bermoral dan tidak mengenal Tuhan (jahiliyyah)
menjadi bangsa yang ber-tauhid kepada Allah swt
berakhlak, terhormat dan memiliki toleransi tinggi terhadap kelompok
agama lain : Yahudi dan Nasrani. Fenomena ini terjadi melalui perjuangan dan
pengorbanan panjang dari seorang rasul bernama Muhammad saw. sebagai pemimpin sejati.
Dimulai dari periode Mekkah,
selama 10 tahun Muhammad saw. berdakwah dari rumah ke rumah secara
sembunyi-sembunyi (sirriyah) hingga setelah banyak para pembesar kafir
Quraisy masuk Islam, ia melakukan dakwah secara terang-terangan (jahriyyah),
dan akhirnya dalam waktu yang relatif tidak lama pengikutnya bertambah banyak
dan semakin kuat. Namun demikian, tantangan dan hambatan yang dialami Muhammad
saw. semakin berat terutama dari kelompok Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sofyan
yang kebenciannya terhadap Muhammad saw. semakin meningkat, hingga pada
akhirnya meraka berusaha membunuh
Muhammad saw. dan para pengikutnya. Pada saat kondisi seperti ini, akhirnya
Muhammad saw. beserta Kaum Muhajirin (orang-orang Mekkah yang ikut berhijrah)
memutuskan untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah).
Di Yatsrib (Madinah)
Muhammad saw. disambut oleh Kaum Anshar dengan suka cita dan penghormatan yang
luar biasa, sebagai kebanggaan terhadap orang mulia yang dirindukan yang
memiliki akhlak mulia yang digambarkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan.
Setelah Muhammad saw. beserta pengikutnya tidak lama tinggal di Madinah,
dibangunlah masjid pertama kali yang diberi nama “Masjid Quba” sebagai tempat
ibadah dan berkumpulnya umat Islam. Dibangunnya masjid tersebut dengan tujuan
utamanya yaitu ingin membangun persatuan dan persaudaran di antara kaum muslimin.
Berdasarkan uraian singkat di
atas, penulis sebagai Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti merasa terpanggil untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
pada materi: Meneladani Perjuangan Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui media tayangan film di kelas yang
penulis ajar yaitu kelas X Jurusan Busana Butik 1, dengan alasan sebagai
berikut :
1.
Sejarah
perjuangan dakwah Rasululah saw. di
Madinah sangat penting diajarkan kepada peserta didik melalui pemahaman yang
utuh dan jelas;
2.
Pembelajaran
materi keteladanan dakwah Rasululah
saw. di Madinah akan meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan serta kecintaan peserta didik kepada Rasulullah saw;
3.
Melalui
media tayangan film diharapkan peserta didik dapat meningkatkan perhatian dalam
kegiatan pembelajaran di kelas pada materi: Keteladanan Dakwah Rasulullah saw.
di Madinah, dan sekaligus dapat meningkatkan nilai hasil belajarnya.
Pada sisi
lain, berdasarkan hasil nilai harian ditemukan pada pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti terutama pada materi Keteladanan perjuangan dakwah
Rasulullah saw di Madinah di kelas X Busana Butik 1 menunjukkan adanya nilai
hasil belajar yang rendah. Hal ini dilihat dari hasil pengamatan ketika proses
belajar mengajar berlangsung masih dijumpai peserta didik yang kurang
perhatian, bersenda gurau, mengantuk, berbicara dengan teman sebangku, dan dari
hasil ulangan harian yang diperoleh peserta didik belum semuanya tuntas, dan ditemukan
dalam ulangan sebanyak 12 peserta didik
dari 35 peserta didik (34 %) yang nilainya di bawah KKM (Kriteria
ketuntasan Minimal), yaitu peserta didik yang mendapat nilai 65 sebanyak 3
anak, yang mendapat nilai 70 sebanyak 9
anak, sedangkan peserta didik yang mendapat nilai di atas 75 berjumlah 23 anak
(66 %). Kenyataan ini belum sesuai
dengan kebijakan SMK Negeri 1 Kendal bahwa KKM (Kriteria Kutantasan Minimal)
untuk mata pelajaran normatif adalah 75 dan untuk mata pelajaran produktif
adalah 78.
Faktor
penyebab permasalahan tersebut di atas antara lain tidak dipergunakannya media
pembelajaran yang efektif, dan pembelajaran yang masih berpusat pada guru
dengan hanya menggunakan metode ceramah yang abstrak dan membosankan.
Di antara upaya agar pembelajaran Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti terutama yang terkait dengan sejarah perjuangan dakwah
Rasulullah saw di Madinah dapat diserap oleh peserta didik dengan jelas dan
konkrit, maka untuk meningkatkan nilai hasil belajar berikutnya penulis
menggunakan Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) dengan
dibantu media tayangan film. Diharapkan dari penggunaan media tayangan
film tersebut nilai hasil belajar
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada kelas X Busana Butik 1 dapat
ditingkatkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan pokok permasalahan
sebagai berikut:
- Bagaimanakah tingkat perhatian peserta didik terhadap materi Keteladanan Perjuangan Dakwah Rasululullah saw. melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction ) dibantu dengan media film?
- Bagaimanakah nilai hasil belajar peserta didik pada materi Keteladanan Perjuangan Dakwah Rasululullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) dibantu dengan media film?
C. Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini bertujuan sebagai berikut :
- Untuk mengetahui tingkat perhatian peserta didik terhadap materi Keteladanan Perjuangan Dakwah Rasululullah saw melalui model pembelajaran langsung (direct instruction) dibantu dengan media film.
- Untuk mengetahui nilai hasil belajar peserta didik pada materi Keteladanan Perjuangan Dakwah Rasululullah saw. melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction ) dibantu dengan media film;
D. Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Guru
:
a. Dengan penelitian ini
dapat dijadikan feedback bagi guru Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti untuk selalu mengadakan improvisasi secara berkesinambungan;
b. Dengan Model Pembelajaran
Langsung dibantu dengan media film
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti lebih efektif dan
efisien;
c. Guru Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti akan menjadi lebih profesional.
2. Peserta didik
:
a. Melalui Model
Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) dibantu dengan media tayangan
film tingkat perhatian belajar peserta didik di kelas lebih meningkat,
menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan, karena materi diajarkan dengan metode
yang atraktif;
b. Nilai hasil belajar
peserta didik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti akan meningkat, sebab
dengan media tayangan film bahan ajar akan lebih mudah dipahami;
c. Peserta didik lebih
termotivasi untuk senantiasa mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Budi Pekerti dengan rasa senang hati.
E. Pembahasan
. 1. Pendidikan Agama Islam, Dakwah
Rasulullah saw., Hasil Belajar, Media
Film
a. Pengertian Pendidikan
Agama Islam
Penjelasan
tentang pengertian Pendidikan Agama Islam dapat dikemukakan beberapa pendapat, di antaranya adalah
sebagai berikut:
a. Syeikh M. Yusuf al-Qardhawi, ”Pendidikan Islam adalah
pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlaq
dan keterampilannya” (Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., 2002:5).
b. Prof. Dr. Hasan
Langgulung, merumuskan pendidikan Islam ”sebagai suatu proses penyiapan
generasi muda untuk mengisi peranan, memindakan pengetahuan dan nilai-nilai
Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan
memetik hasilnya di akhirat”.
c. Dr. Armai Arief M.A.
berpendapat bahwa, ”Pendidikan Islam yaitu sebuah proses yang dilakukan untuk
menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya; beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi”.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa Pendidikan
Agama Islam adalah suatu usaha melalui proses pendidikan, agar anak didik dapat
memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup yang
diyakininya, sehingga ia mendapatkan
kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
2.
Dasar Konstitusional Pendidikan Agama Islam
Adapun yang
menjadi dasar konstitusional Pendidikan Agama Islam wajib diajarkan di setiap
jenjang pendidikan di antaranya tercantum dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bagian ke sembilan tentang Pendidikan
Keagamaan pasal 30 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut:
”(1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan
oleh pemerintah dan kelompok masyarakat dari pemeluk agama sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(2). Pendidikan keagamaan berfungsi
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan
mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dan atau menjadi ahli ilmu agama”.
Berdasarkan
uraian di atas, bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari UU Sisdiknas RI No. 20 tahun 2003. Ini berarti peranan
Pendidikan Agama Islam dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu
strategi Pemerintah untuk menjadikan manusia Indonesia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Hakikat dan Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Pada
hakikatnya Pendidikan Agama Islam merupakan nilai-nilai moral yang berasal dari
Allah swt. yang disampaikan kepada para rasul untuk diajarkan kepada umat
manusia, agar mereka menjadikannya sebagai
pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di
akhirat.
Adapun
Pendidikan Agama Islam dibagi beberapa bagian, yaitu akidah, ibadah dan akhlak.
Akidah merupakan keyakinan yang berhubungan dengan adanya Dzat, Sifat dan
Perbuatan Allah, sedangkan ibadah suatu bentuk penyembahan dan pengabdian
seseorang sebagai bentuk pengakuan tentang adanya Allah. Adapun akhlak ialah perbuatan mulia yang berupa ucapan,
sikap dan perilaku seseorang sebagai manifestasi dari nilai-nilai keyakinan dan
ibadah tadi. (Zakiyah Daradjat, 1976: 25).
4. 
Pengertian Dakwah
Dakwah berasal
dari kata yang berarti menyeru, memanggil, mengajak berbuat pada sesuatu hal. Menurut istilah, dakwah
adalah kegiatan mengajak orang lain,
seseorang atau lebih ke jalan Allah Swt. secara lisan atau perbuatan. Di sini
dikenal adanya da’wah billisān dan da’wah bilhāl. Kegiatan bukan
hanya ceramah, tetapi
juga aksi sosial yang nyata. Misalnya, santunan anak yatim,
sumbangan untuk membangun fasilitas umum, dan lain sebagainya. (Kemendikbud, Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti SMK Kelas X, 2014, hal. 58).
Salah satu kewajiban umat Islam adalah
berdakwah. Sebagian ulama menyebut berdakwah itu hukumnya fardu kifayah (kewajiban kolektif,
sebagian lainnya menyatakan fardu ain. Meski begitu, Rasulullah saw.
tetap selalu mengajarkan agar seorang muslim selalu menyeru pada jalan kebaikan
dengan cara-cara yang baik. Setiap
dakwah hendaknya bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat dan mendapat rida dari Allah swt. Nabi Muhammad saw.
mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan
dan perbuatan.
4.1.
Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah
Dalam sejarah Islam, dakwah yang
dilakukan oleh Rasulullah saw. di Madinah diawali sejak Rasulullah saw.
berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Setelah tiba dan diterima
penduduk Yatsrib (Madinah), Rasulullah saw. menjadi pemimpin penduduk
kota itu. Di Madinah Rasulullah saw. memiliki kedudukan bukan hanya sebagai
kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain, dalam diri
nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi.
Kedududukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala Negara. (Harun
Nasution, 1985, hal. 101).
4.2.
Strategi
Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu,
Rasulullah saw. segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, yaitu :
4.2.1.
Membangun
masjid
Dibangunnya masjid, selain untuk tempat shalat, juga
sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum Muslimin dan mempertalikan jiwa
mereka, di samping sebagai tempat bermusyawarah merundingkan segala masalah
yang dihadapi. Masjid pada masa nabi bahkan juga berfungsi sebagai pusat
pemerintahan.
4.2.2. Ukhuwwah Islamiyah
Persaudaraan sesama muslim, adalah prioritas kedua strategi
dakwah Rasulullah saw. di Madinah setelah membangun masjid. Rasulullah saw.
mempersaudarakan antara golongan Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekkah
ke Madinah), dan Anshar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam, dan ikut
membantu kaum Muhajirin tersebut. Dengan demikian, diharapkan, setiap muslim
merasa terikat dalam satu persaudaraan dan kekeluargaan. Apa yang dilakukan
Rasulullah saw. ini berarti menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru
yaitu persaudaraan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan darah.
4.2.3.
Hubungan
persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam.
Di Madinah, di samping orang-orang
Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat
Yahudi dan Nasrani serta orang-orang Arab yang masih
menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat
diwujudkan, Rasululllah saw. mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuah
piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai
komunitas dimaklumatkan. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam
bidang politik dan keagamaan. Kemerdekaan beragama dijamin dan seluruh anggota
masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negara Madinah dari serangan
luar. (Muhammad Husein Haekal, 1990, hal.199). Perjanjian tersebut, dalam
pandangan ketatanegaraan sekarang disebut dengan “Konstitusi Madinah”.
Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin bertambah
kuat dan semakin diterima oleh masyarakat Madinah.
2. Model Pembelajaran Langsung
(Direct Instruction), dan Media Film
2.1. Pengertian Model Pembelajaran
Langsung
Model Pembelajaran
Langsung (Direct Instruction) adalah pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok
siswa dengan maksud agar peserta didik
menguasai materi pelajaran secara optimal. Peserta didik tidak dituntut
untuk menemukan materi, akan tetapi peserta didik berperan aktif, memperhatikan
dan konsentrasi terhadap apa yang diterangkan oleh seorang guru. Jadi, materi
pelajaran seakan-akan sudah jadi dan siap disajikan. Wina Sanjaya (2008 : 179),
menyebut model ini sebagai model Ekspositori, yang sering juga disebut dengan ”chalk
and talk”, yaitu sebuah pembelajaran yang bersumber pada materi yang telah ditulis dan siap disajikan (diajarkan) kepada peserta didik secara terbuka.
Model
pembelajaran langsung ini merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang
berorientasi pada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian,
sebab dalam model ini guru memegang peran penting yang sangat dominan. Melalui
model pembelajaran langsung ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi yang
disampaikan itu dapat dikuasai peserta didik dengan baik. Fokus utama model
pembelajaran ini adalah kemampuan akademik peserta didik.
Model
pembelajaran langsung bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan
teori belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling), yang
telah dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Albert Bandura, ″Belajar yang
dialami manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku
dan pengalaman (keberhasilan dan kegagalan orang lain” (Adi W. Gunawan : 2004 :
32).
Aliran
psikologi belajar yang sangat mempengaruhi model pembelajaran langsung adalah
aliran belajar behavioristik, yaitu aliran belajar yang lebih menekankan pada pemahaman,
bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antara stimulus dan respon,
oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai stimulus merupakan
faktor yang
sangat penting dalam pembelajaran. Dari asumsi ini berbagai konsep bagaimana
agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respon itu bisa
berlangsung secara efektif. Hubungan antara guru (stimulus) dan peserta didik
(respon) dalam proses belajar mengajar dikenalkan pertama kali oleh Thorndike
yang mengadakan eksperimen melalui percobaan terhadap seekor kucing yang
dimasukkan dalam suatu tempat tertutup
dan dibiarkan lapar, lalu di luar disajikan sepotong daging untuk
diketahui apakah seekor kucing tadi merasa terangsang untuk memakan sepotong
daging apa tidak, ternyata melalui pengamatan Thorndike, bahwa seekor kucing
tadi ada kemauan keras untuk segera keluar dari tempatnya, dan ingin segera
menemukan sepotong daging tadi. (Nana Syaudih Sukmadinata : 2003:19). Dari
eksperimen Thorndike ini para ahli pendidikan berpendapat, jika kondisi
pembelajaran di sekolah benar-benar disiapkan oleh guru dan peserta didik pun
dalam kondisi siap menerima materi pelajaran, serta pembelajaran ditampilkan
oleh guru secara atraktif, maka materi pembelajaran dari guru tadi akan
dipahami oleh peserta didik secara efektif. Untuk memperkuat argumentasi
terhadap aliran behavioristik ini tersebut, Waston pengikut fanatik aliran
behaviorisme dari Amerika Serikat mengatakan hal sebagai berikut :
″Berilah aku sejumlah anak yang baik keadaan
badannya dan situasi yang saya butuhkan; dan dari setiap anak orang, entah yang
mana, dapat saya jadikan dokter, seorang pedagang, seorang ahli hukum, atau
jika memang dikehendaki, akan saya jadikan ia seorang pengemis atau
pencuri”(Ngalim Purwanto: 2002 : 59).
Berdasarkan
penjelasan di atas, model pembelajaran langsung dapat membentuk perilaku
peserta didik sesuai yang diharapkan oleh guru, sebab dengan model yang
ditampilkan oleh guru secara langsung akan berpengaruh pada pengetahuan,
perilaku dan kepribadian peserta didik.
2.2. Ciri-ciri dan tujuan Model
Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Ada
beberapa ciri/karakteristik model pembelajaran langsung (direct instruction)
ini, yaitu:
a. Pembelajaran langsung
dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya
bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh
karena itu sering diidentikkan dengan ceramah;
b. Biasanya materi
pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti
data, atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak
menuntut peserta didik berpikir ulang. Ada yang menyebut dengan istilah
pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. (Sumber diambil dari : Diklat BDK Kementerian
Agama, Peningkatan Guru PAI SMK se-Jawa Tengah, tanggal 22 Nopember s/d 29
Nopember 2010).
Adapun tujuan dari model pembelajaran langsung
adalah untuk menjadikan peserta didik berbagi pengetahuan secara aktif.
Pembelajaran langsung ini di-desain untuk mengenalkan peserta didik
terhadap mata pelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan
merangsang mereka untuk untuk berpikir. Peserta didik
tidak bisa berbuat apa-apa jika pikiran mereka tidak dikembangkan oleh
guru. Banyak guru yang membuat kesalahan dalam mengajar, yakni sebelum peserta
didik belum merasa terlibat dan siap secara mental guru langsung memberikan
materi pelajaran.
2.3. Strategi (Langkah-langkah) Model Pembelajaran Langsung
Sebelum
diuraikan tahapan model pembelajaran langsung, terlebih dahulu diuraikan
beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan model
pembelajaran langsung ini, yaitu: Pertama, rumuskan tujuan yang ingin
dicapai. Merumuskan tujuan merupakan langkah awal yang harus dipersiapkan.
Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah
laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar. Dengan demikian,
melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing peserta didik dalam menyimak
materi pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan model
pembelajaran ini.
Kedua, kuasai materi pelajaran dengan baik.
Penguasaan materi yang sempurna, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat,
sehingga guru akan mudah mengelola kelas, ia akan bebas bergerak; berani
menatap peserta didik, tidak takut dengan perilaku-perilaku peserta didik yang
dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.
Ketiga, kenali medan dan berbagai hal yang dapat
memengaruhi proses penyampaian. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru
dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses
penyajian materi pelajaran. (Diklat BDK Kementerian Agama, Peningkatan
Mutu Guru PAI SMK se- Jawa Tengah di Bandungan pada tanggal 22 s/d 29 Nopember
2010).
3. Film
Secara harfiah, film (sinema) adalah cinematographie yang berasal dari kata cinema (gerak), tho atau phytos (cahaya), dan graphie atau grhap (tulisan, gambar, citra). Jadi pengertiannya
adalah melukis gerak dengan cahaya, dan agar dapat melukis gerak dengan cahaya,
harus menggunakan alat khusus, yang biasa disebut kamera. Film sebagai karya
seni sering diartikan hasil cipta karya seni yang memiliki kelengkapan dari
beberapa unsur seni untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya spiritual. Dalam hal
ini unsur seni yang terdapat dan menunjang sebuah karya film adalah: seni rupa,
seni fotografi, seni arsitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater,
seni musik. Kemudian ditambah lagi dengan seni pantomin dan novel. Kesemuannya
merupakan pemahaman dari sebuah karya film yang terpadu dan biasa kita lihat. (htp:/www.media.com, 2015).
F. Kerangka Berpikir
Berdasarkan
permasalahan dan kajian teori di atas, diharapkan nilai hasil belajar peserta
didik kelas X Busana Butik 1 SMKN 1 Kendal tentang materi Meneladani dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui model pembelajaran langsung (direct
instruction) dibantu media tayangan film dapat lebih meningkat, sebab
dengan meningkatnya nilai hasil belajar kelas X Busana Butik 1 di atas dapat
terpenuhinya standar KKM yang ditentukan.
Penelitian ini akan membuktikan, bahwa telah terjadi peningkatan nilai
hasil belajar yang signifikan tentang
materi Meneladani dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada kelas X Kompetensi Keahlian : Busana
Butik 1 SMKN 1 Kendal pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016, setelah
penulis memodernisasikan pembelajarannya melalui model pembelajaran langsung,
dan dibantu dengan media film.
Berdasarkan penjelasan teori-teori di atas, maka diduga adanya peningkatan
nilai hasil belajar dan perhatian peserta didik kelas X Busana Butik 1 tentang
materi Meneladani Dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui Model
Pembelajaran Langsung dibantu
dengan media tayangan film pada
tahun pelajaran 2015/ 2016.
G.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada kerangka berpikir di atas, dapat diajukan hipotesis
sebagai berikut:
- Ada peningkatan perhatian peserta didik kelas X Busana Butik 1 terhadap pembelajaran materi meneladani dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung dibantu dengan media tayangan film.
- Ada peningkatan nilai hasil belajar peserta didik kelas X Busana Butik1 pada materi meneladani dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung dibantu dengan media tayangan film.
F. Metode Penelitian
1. Setting Penelitian
Penelitian
ini adalah penelitian yang berbasis kelas dengan lokasi kelas X Kompetensi
Keahlian : Busana Butik 1 SMKN 1 Kendal Propinsi Jawa Tengah, sebuah lokasi di
mana penulis mengajar. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan sejak minggu ke-2
bulan Januari s/d minggu ke- 2 bulan April 2016 sebanyak 3 kali
siklus, pada semester 2 (genap) tahun
pelajaran 2015/2016 dengan melibatkan 35 peserta didik yang beragama Islam.
3. Subyek Penelitian
Subyek
penelitian ini adalah peserta didik kelas X Busana Butik 1 semester 2 (genap)
SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 35 peserta didik. Argumentasi
dipilihnya kelas di atas karena ketika proses pembelajaran berlangsung dijumpai
sebagian besar peserta didik kurang memperhatikan, tidak konsentrasi,
mengantuk, bicara sendiri-sendiri, dan ketika ditanya tentang materi yang
diajarkan sebagian besar tidak paham dan tidak bisa menjawab, dan ketika
dilaksanakan ulangan, nilainya kurang memuaskan (tidak tuntas).
4. Jenis Penelitian
Penelitian
tindakan kelas yang penulis lakukan ini adalah penelitian kualitatif, yaitu
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. (Moeleong, 1989: 3).
Penelitian
ini diarahkan pada dua variabel. Variabel pertama, yaitu Model
Pembelajaran langsung dibantu tayangan film dengan indikator : tingkat
perhatian peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. dan Variabel
kedua, nilai hasil belajar dengan indikator : hasil ulangan harian.
5.
Sumber Data
Sumber
data yang dijadikan referensi oleh penulis adalah sebagai berikut:
a.
Lembar pengamatan yang digunakan oleh penulis
untuk mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kegiatan belajar
mengajar berlangsung;
b. Lembar nilai ulangan
harian ; dan
c. Angket/ lembar
tanggapan siswa.
6. Teknik
dan Alat Pengumpulan Data
a. Teknik
Teknik pengumpulan data dalam PTK ini ada 2
(dua), yaitu : instrumen tes dan non tes.
1) Tes
Tes yang digunakan untuk
mengukur tingkat kemampuan peserta didik yang diperoleh adalah dengan
melaksanakan ulangan harian, yaitu suatu gambaran secara riil seberapa nilai
yang diperoleh setiap peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar
pada suatu standar kompetensi/kompetensi dasar dari suatu bahan ajar.
2) Non Tes
Teknik non tes yang digunakan pada
penelitian ini yaitu melalui pengamatan, digunakan untuk mengetahui secara
langsung mengenai aktivitas peserta didik selama kegiatan pembelajaran pada
materi Meneladani Dakwah Rasulullah saw.
di Madinah dalam mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, apakah ada perubahan yang signifikan
pada diri peserta didik terutama tingkat perhatian terhadap materi yang
diajarkan.
b.
Alat Pengumpulan Data
1) Daftar Nilai
Daftar nilai digunakan untuk
mengetahui hasil nilai siswa yang
dilaksanakan melalui ulangan harian.
2) Lembar Tanggapan/
Angket
Digunakan untuk mengetahui feedback
(umpan balik) terhadap materi yang telah diajarkan. Dengan lembar
tanggapan/angket ini akan diketahui seberapa jauh tingkat perhatian peserta
didik, apakah pada tingkatan rendah, sedang, atau tinggi. Lembar tanggapan ini
berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan metode pembelajaran,
minat belajar, perhatian dan kesungguhan dalam mengikuti
pembelajaran. Setelah peserta
didik mengikuti pembelajaran pada setiap siklus,
peserta didik diberikan lembar
tanggapan ini, dan selanjutnya diberikan penilaian.
3) Lembar Pengamatan
Digunakan untuk mengamati
segala sikap dan perilaku peserta didik selama kegiatan pembelajaran
berlangsung di kelas. Dalam hal ini penulis berkolaborasi dengan teman guru
sejawat untuk mengamati perilaku siswa selama KBM berjalan.
4)
Dokumen berupa foto kegiatan belajar mengajar di
kelas.
G. Validasi Data
Untuk
kepentingan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi,
yaitu pengujian validitas data dengan
cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan metode kualitatif. (Lexy
J. Moleong, 2002 :178).
Trianggulasi
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk ulangan harian, hasil
observasi, pengamatan di tempat penelitian
dan umpan balik tanggapan dari peserta didik kelas X Busana Butik 1 SMK Negeri
1 Kendal terhadap kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
terutama pada materi Keteladanan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah yang
berlangsung di kelas.
F. Analisis Data
Data dari
hasil observasi selama kegiatan pembelajaran
dianalisis, selanjutnya diinterpretasikan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru.
Untuk
analisis nilai hasil belajar berupa hasil ulangan harian diukur berdasarkan pedoman
penilaian yang dibuat oleh guru.
Rumus yang
dipakai adalah :
NH = Σ
N
Keterangan :
NH = Nilai Ulangan Harian
Σ N = Jumlah Nilai yang diperoleh
Sedangkan
lembar tanggapan/angket yang merupakan usaha untuk mengetahui seberapa jauh tingkat
perhatian peserta didik terhadap
pembelajaran Keteladanan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui model pembelajaran langsung dengan
dibantu tayangan film, dianalisis berdasarkan
kriteria validasi instrumen
dengan menggunakan analisis
diskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan rumus :
NK
NT =
--------
R
Keterangan :
NT = Nilai Tanggapan
NK = Nilai Komulatif
R = Responden
Dengan kriteria sebagai berikut :
32 –
40 = Sangat Tinggi (Sangat Baik)
24 –
31 = Tinggi (Baik)
16 –
23 = Sedang
8 –
15 = Rendah
G. Indikator Kinerja
Penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan di dalam kelas. Dengan penelitian ini diperoleh manfaat berupa
perbaikan praksis yang berupa penanggulangan berbagai masalah belajar peserta
didik dan kesulitan mengajar yang dialami oleh guru.
Untuk
mengevaluasi ada tidaknya dampak positif terhadap tindakan, diperlukan kriteria
keberhasilan yang ditetapkan sebelum tindakan dilakukan. Dari kegiatan refleksi
ini diperoleh ketetapan tentang hal-hal yang telah dicapai menjadi bahan dalam
merencanakan kegiatan siklus berikutnya.
Indikator
kenerja dari data kuantitatif ditetapkan kriteria sebagai berikut:
- 70 % peserta didik mencapai ketuntasan dalam belajar;
- Semakin meningkat perolehan hasil tes pada kategori di atasnya menunjukkan kriteria peningkatan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Jadi seumpama pada siklus II terdapat peningkatan tingkat perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan dibandingkan pada siklus I, maka berarti telah terjadi peningkatan yang positip seperti yang terlihat dari tabel 1 berikut ini:
Tabel
1: Tabel Tingkat Perhatian dari Hasil Proses Tiga Siklus
|
Kategori
|
Interval Nilai
|
Frekuensi Nilai
|
||
|
Siklus 1
|
Siklus 2
|
Siklus 3
|
||
|
SangatTinggi/Sangat Baik
|
32 –
40
|
|
|
|
|
Tinggi/Baik
|
24 –
31
|
|
|
|
|
Sedang
|
16 –
23
|
|
|
|
|
Rendah
|
8
– 15
|
|
|
|
Adapun
kinerja dari data kualitatif ditetapkan sebagai berikut:
- Peserta didik tidak ada yang berbicara sendiri, bersenda gurau, mengantuk dan sebagainya, selama kegiatan pembelajaran berlangsung peserta didik memperhatikan dengan sungguh-sungguh;
- Dari siklus 1 sampai dengan siklus 3 terjadi adanya peningkatan perhatian belajar dari peserta didik;
- Dari siklus 1 sampai dengan siklus 3 terjadi adanya peningkatan nilai hasil belajar peserta didik secara signifikan.
F.
Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dalam
bentuk proses pengkajian berdaur 4 tahap, yaitu (1) merencanakan, (2) melakukan
tindakan, (3) mengamati (observasi), dan (4) merefleksi.
Penelitian
ini adalah hasil observasi secara langsung pada saat pelaksanaan proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Budi Pekerti kurikulum 2013 yang terdapat pada Kompetensi Dasar 3.1.1. yaitu
Memahami Substasi dan Strategi Dakwah Rasulllah saw. di Madinah, dengan materi
Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw di Madinah.
Siklus
ke-1 bertujuan untuk
mengetahui tingkat perhatian peserta didik dalam pembelajaran materi meneladani
perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah
melalui Model Pembelajaran Langsung dibantu media tayangan film. Dari
Siklus ke-1 tersebut akan dapat diketahui sejauhmana tingkat perhatian peserta
didik terhadap materi yang diajarkan, dan berapa peserta didik yang telah
mencapai ketuntasan belajar dalam bentuk pemberian ulangan harian. Apabila dalam siklus ke-1 peserta didik belum
bisa mencapai tingkat perhatian yang diharapkan, dan belum mampu mencapai nilai
ketuntasan (KKM), maka dapat dijadikan refleksi untuk melakukan tindakan pada
siklus ke-2.
Pada siklus
ke-2. yang dilakukan guru adalah melakukan penajaman terhadap materi meneladani perjuangan dakwah Rasulullah
saw. di Madinah, melalui Model Pembelajaran Langsung dibantu media tayangan film
pada Kompetensi Dasar 3.1.1. yaitu memahami substasi dan strategi dakwah
Rasulllah saw. di Madinah.
Dari siklus ke-2 tersebut akan dapat diketahui sejauhmana
tingkat perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan, berapa peserta
didik yang telah mencapai ketuntasan belajar dalam bentuk pemberian ulangan
harian. Apabila dalam siklus ke-2 peserta didik belum bisa mencapai tingkat
perhatian yang diharapkan, dan belum mampu mencapai nilai KKM, maka dapat
dijadikan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus ke-3.
Pada siklus
ke-3, Langkah-langkah yang dilakukan guru adalah melakukan hasil refleksi
dari siklus ke-2, terutama pembelajaran Kompetensi Dasar 3.1.1. yaitu memahami
substasi dan strategi dakwah Rasulllah saw. di Madinah, dengan materi
meneladani perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah, melalui Model
Pembelajaran Langsung dengan media film dengan memperbaiki strategi, metode dan
penajaman terhadap materi yang diajarkan.
Kesimpulan
yang diambil adalah didasarkan pada perubahan dari hasil tes dan non tes dari
siklus ke-1 ke siklus berikutnya. Dari perubahan hasil tes, jika menunjukkan
kenaikan positif secara signifikan berarti terjadi peningkatan hasil
pembelajaran, tetapi jika sebaliknya, maka perlu perbaikan pelaksanaan model pembelajaran yang
diterapkan dari siklus ke-1 dan seterusnya, sedangkan perubahan hasil non tes
yang dihasilkan dari wawancara, angket, maupun jurnal, diungkap apa adanya
sesuai hasil yang telah terkumpul sebagai perbandingan antara siklus ke-1
dengan siklus berikutnya.
G. Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang penulis
paparkan pada siklus ke-1 sampai dengan siklus ke-3 adalah berupa hasil
angket/tanggapan dan hasil nilai ulangan
harian peserta didik kelas X Busana Butik 1 yang berjumlah 35 peserta
didik (yang beragama Islam). Pada siklus ke-1 tersebut materi yang diajarkan
adalah Kompetensi Dasar 3.1.1. : Memahami substansi dan strategi dakwah
Rasulullah saw. di Madinah.
Untuk
mengetahui lebih jelas mengenai hasil penelitian tersebut di atas, dapat
dilihat dari Tabel berikut ini :
Tabel: 2.Tingkat
Perhatian Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi Meneladani
Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-1
|
No
|
Kegiatan
|
Rerata Nilai
|
Keterangan
|
|
|
Perhatian dalam KBM pembelajaran materi Meneladani Perjuangan Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) dibantu media Tayangan Film pada Kompetensi Dasar 3.1.1. Memahami
sbstansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah.
|
26,89
|
Perhatian Tinggi/ Baik
|
Tabel: 3. Tingkat
Perhatian Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi Meneladani
Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-2
|
NO
|
Kegiatan
|
Rerata Nilai
|
Keterangan
|
|
1.
|
Perhatian dalam KBM pembelajaran materi Meneladani Perjuangan Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) dibantu media tayangan film pada Kompetensi Dasar 3.1.1. : Memahami
substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah.
|
28,71
|
Perhatian Tinggi/ Baik
|
Tabel: 4.Tingkat
Perhatian Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran Meneladani Perjuangan
Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-3
|
NO
|
Kegiatan
|
Rerata Nilai
|
Keterangan
|
|
1.
|
Perhatian dalam KBM pembelajaran Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah
saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
dibantu media tayangan film pada Kompetensi Dasar : Memahami substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah
|
29,43
|
Perhatian Tinggi/ Baik
|
Adapun hasil
nilai harian dari siklus ke-1 sampai dengan siklus ke-3 adalah sebagai berikut
:
Tabel: 5.
Pencapaian Nilai Hasil Belajar Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi
Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-1
|
No
|
Interval Nilai
|
Frekuensi
|
Prosentase
|
KKM= 75
|
Ket.
|
|
|
Tuntas
|
Tidak Tuntas
|
|||||
|
1.
2.
3.
4.
|
90 – 100
75 – 89
60 – 74
0 – 59
|
7
28
-
-
|
20 %
80 %
|
7
28
-
-
|
-
-
-
-
|
|
|
|
Jumlah
|
35
|
100 %
|
39
|
0
|
|
|
|
Rerata
|
83,71
|
|
|
|
|
|
|
Ketuntasan
|
|
|
100 %
|
|
|
Tabel: 6. Pencapaian Nilai
Hasil Belajar Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi Meneladani
Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus II
|
No
|
Interval Nilai
|
Frekuensi
|
Prosentase
|
KKM= 75
|
Ket.
|
|
|
Tuntas
|
Tidak Tuntas
|
|||||
|
1.
2.
3.
4.
|
90 – 100
75 – 89
60 – 74
0 – 59
|
7
28
-
-
|
20 %
80 %
|
7
28
-
-
|
-
-
-
-
|
|
|
|
Jumlah
|
35
|
100 %
|
35
|
0
|
|
|
|
Rerata
|
85,71
|
|
|
|
|
|
|
Ketuntasan
|
|
|
100 %
|
|
|
Tabel: 7. Pencapaian Nilai
Hasil Belajar Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi Meneladani
Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus III
|
No
|
Interval Nilai
|
Frekuensi
|
Prosentase
|
KKM= 75
|
Ket.
|
|
|
Tuntas
|
Tidak Tuntas
|
|||||
|
1.
2.
3.
4.
|
90 – 100
75 – 89
60 – 74
0 – 59
|
11
24
-
-
|
31,42 %
68,58 %
|
11
24
-
-
|
-
-
-
-
|
|
|
|
Jumlah
|
35
|
100 %
|
35
|
0
|
|
|
|
Rerata
|
86,57
|
|
|
|
|
|
|
Ketuntasan
|
|
|
100 %
|
|
|
Untuk
memperjelas peningkatan perhatian belajar peserta didik pada saat KBM maupun
hasil nilai harian dari siklus ke-1 sampai dengan ke-3 dapat dilihat dari
grafik berikut ini :

Berdasarkan
pada tabel dan grafik di atas, membuktikan bahwa perhatian belajar peserta
didik kelas Busana Butik 1 telah terjadi perubahan yang signifikan. Hal
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
- Siklus 1 tingkat perhatian belajar dengan nilai 26,89 yang berada pada kriteria tinggi/baik, rerata nilai hasil belajar yang dicapai 83,71 dengan
kriteria baik/tuntas;
- Siklus 2 tingkat perhatian belajar dengan nilai 28,71 yang berada pada kriteria tinggi/baik, rerata nilai hasil belajar yang dicapai 85,71 dengan kriteria baik/tuntas; dan
- Siklus 3 tingkat perhatian belajar dengan nilai 29,43 yang berada pada kriteria tinggi/baik, rerata nilai hasil belajar yang dicapai 86,57 dengan kriteria baik/tuntas.
H. Kesimpulan
Berdasarkan
pada tiga siklus yang penulis lakukan dalam pembelajaran materi meneladani
perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah di kelas X Busana Butik 1 melalui
Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) dibantu dengan media tayangan film dapat
dijelaskan hasil yang dicapai sebagai berikut :
- Kelas X Busana Butik 1 yang berjumlah 35 peserta didik (muslim) setelah mendapatkan tindakan-tindakan dari siklus 1, 2, dan 3 mengalami peningkatan perhatian dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tentang materi meneladani perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah dibandingkan sebelumnya, yaitu : siklus 1 (26,89), siklus 2 (28,71), dan siklus 3 (29,43) pada kriteria tinggi/baik. Demikian pula dengan nilai hasil belajar peserta didik juga mengalami peningkatan yaitu : siklus 1 (nilai rata-rata 83,71), siklus 2 (nilai rata-rata 85,71). dan siklus 3 (nilai rata-rata 86,57) pada kriteria baik.
- Tingkat ketuntasan belajar peserta didik mulai dari siklus 1, 2, dan 3 sebesar 100 %.
- Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis maupun observer lain tidak terdapat siswa yang mengantuk, bersenda gurau, keluar masuk ruangan dan lain-lain, tetapi peserta didik mengikuti KBM dengan rasa senang, antusias dan sungguh-sungguh.
- Pada guru (penulis) sendiri juga terjadi peningkatan gairah dan motivasi mengajar, sebab mengajar dengan berbagai metode apalagi dibantu dengan penggunaan media tayangan film akan sangat membantu guru dalam menyampaikan materi ajar serta mempermudah peserta didik memahami materi yang diajarkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qardhawi , Muhammad, Yusuf, 1980, Pendidikan
Islam dan Madrasah Al-Banna, terjemahan Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs.
Zaenal Abidin Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang.
Andreas Priyono, 2000, Pedoman
Praktis Pelaksanaan Tindakan Kelas (Classroom-Based Action Research), Proyek
Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Kantor Wilayah Depdiknas, Propinsi Jawa
Tengah.
Aqib
Zaenal, dkk., 2009. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SMP, SMA, SMK,
Bandung: CV. Yrama Widya.
Arief, Armai, Dr., M.A., Pengantar Ilmu
dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers.
Arikunto, Suharsimi, Prof.,
Dr., dkk., 2010, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara.
Azra, Azyumardi, Prof.,Dr., 2002, Pendidikan
Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana
Ilmu.
BDK, Kementerian Agama,
Jawa Tengah, 2010, Materi : Peningkatan Guru PAI SMK se-Jawa Tengah.
Daradjat, Zakiyah, 1986, Ilmu
Jiwa Agama, Jakarta: PT. Rajawali Press.
Depag., RI., 1971, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta : Depag RI.
Diklat BDK Kementerian
Agama, Peningkatan Guru PAI SMK se-Jawa Tengah, tanggal 22 Nopember s/d
29 Nopember 2010
Haekal, Muhammad Husain, 1990, Sejarah
Hidup Muhammad, Jakarta: Litera Antarnusa.
Kemendikbud, 2013, Buku
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMK Kelas X, Jakarta: Depag.
Komang T., Dewa, dkk.,
2004, Pedoman Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Direktorat Pembinaan
Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi.
Langgulung, Hasan, Prof., Dr., 1980, Beberapa Pemikiran tentang
Pendidikan Islam, Bandung: Al-Maarif.
Lexy J. Moleong, 2002, Metodologi
Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nasution, Harun, Prof., Dr., 1985, Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:UI Press.
Ngalim Purwanto, Ngalim,
2002, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis,Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Saminanto, 2010, Ayo
Praktik PTK, Semarang: Media Group
Suhandjono, Azis, Hoesein,
dkk., 1996, Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan,
Depdikbud, Dikdasmen.
Sukmadinata, Syaudih, Nana,
Prof., Dr., 2003, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Sumarno, 1997, Pedoman
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Ditjen Dikti.
htp://www.media.com, 2015
Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.
Usman, Uzer, Moh., 2003. Menjadi
Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Langganan:
Komentar (Atom)