STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER ISLAMI
Oleh : Ahmad
Solekhan,S.Ag, M.M.
Abstraction
The Caracter value has been became main content in the graduate
competention standart in Indonesian education. As suit as President regulation
said that caracter education must be priority in education, in order to build
the caracter quality for student early. There are many strategies that we apply
the caracter, namely the doctrinal drilling, the spontan action, the duties
evaluation, and internalitation. Internalitation is our effort to make the
caracter as habite, with the action we use to continuesly.
Keyword : internalitation-islamic caracter
PENDAHULUAN
Pendidikan Agama Islam di sekolah (baik sekolah umum atau
madrasah) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan
nasional. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 bahwa
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
rakyat menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Eksistensi Pendidikan Agama Islam semakin kuat dari tahun ke tahun,
apalagi setelah disahkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003
tentang pelaksanaan pendidikan agama. Hal ini sangat memungkinkan bagi sekolah
untuk dapat menyelenggarakan pendidikan agama dengan sebaik-baiknya sehingga
tujuan Pendidikan Agama Islm dapat tercapai.
Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan nilai, karena lebih
banyak menonjolkan aspek nilai, baik nilai ketuhanan maupun nilai kemanusiaan,
yang hendak ditanamkan atau ditumbuhkembangkan ke dalam diri peserta didik
sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya.2
Pendidikan Agama Islam harus diupayakan agar dapat diterima dengan
baik oleh peserta didik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,
sehingga peserta didik dapat menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam
kedalam jiwanya dan menjadikan nilai-nilai ajaran islam sebagai prinsip
hidupnya.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang selama ini
berlangsung agaknya terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap
persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi
“makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik,
untuk selanjutnya menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk
bergerak, berbuat, dan berperilaku secara konkrit-agamis dalam kehidupan
praktis sehari-hari.3
Proses Internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi
peserta didik untuk dapat mengamalkan dan mentaati ajaran dan nilai-nilai agama
dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai. Upaya dari
pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri
peserta didik menjadi sangat penting, dan salah satu upaya tersebut adalah
dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah. Metode pembiasaan tersebut
adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah, kegiatan-kegiatan
keagamaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan
rutin (pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan
nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik.
Sejajar dengan pentingnya internalisasi nilai-nilai ajaran islam
penelitian terhadap internalisasi nilai-nilai ajaran islam juga demikian, hal
ini bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pencapaian upaya untuk
menginternalisasikan nilai-nilai ajaran islam dan juga untuk mengetahui
langkah-langkah yang efektif dalam upaya berikutnya.
B.INTERNALISASI NILAI KEISLAMAN
Proses Internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengamalkan dan mentaati ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai. Upaya dari pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri peserta didik menjadi sangat penting, dan salah satu upaya tersebut adalah dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah. Metode pembiasaan tersebut adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah, karena kegiatan–kegiatan keagamaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan rutin (pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam secara baik kepada peserta didik.
1.Metode Pembiasaan
Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam mencapai tujuan tertentu (tujuan pendidikan). Banyak para tokoh yang mengemukakan definisi pendidikan, tetapi pada intinya pendidikan mempunyai beberapa unsur utama, yaitu:
a.
Usaha
(kegiatan) yang bersifat bimbingan,
pimpinan, atau pertolongan yang dilakukan secara sadar
b.
Ada
pendidik, pembimbing atau penolong
c.
Ada yang
dididik atau si terdidik
d.
Adanya dasar atau tujuan dalam bimbingan
tersebut
Dari
unsur pendidikan di atas dapat diketahui bahwa fungsi metode sangat penting
dalam proses belajar mengajar. Karenanya terdapat suatu prinsip yang umum dalam
memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam
suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga
pelajaran atau materi pendidikan yang akan disampaikan itu dapat dengan mudah
diberikan.
Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman, yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan.
Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman, yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan.
Metode pembiasaan juga digunakan oleh Al-qur’an dalam memberikan materi pendidikan melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan–kebiasaan yang negatif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai sesuatu yang istimewa. Ia banyak sekali menghemat kekuatan manusia, karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang pekerjaan, berproduksi dan aktivitas lainnya (Abudin Nata: 100-101).Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini mungkin. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan sholat, tatkala mereka berumur tujuh tahun. Hal tersebut berdasarkan hadits di bawah ini:
مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِاالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فىِالمَضَاجِعِ (رواه أبوداوود)
Artinya: “Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”.
( HR.
Abu Dawud.)
Membiasakan anak shalat, lebih-lebih dilakukan secara berjamaah itu penting. Sebab dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak dijumpai orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab sebelum melakukan sesuatu seseorang harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan (Ramayulis: 184).
2.Internalisasi Nilai
Nilai adalah suatu penetapan atau kualitas obyek yang menyangkut suatu jenis aspirasi atau minat (Nur Syam: 133). Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai di mana peserta didik diharapkan dapat bertindak, bergerak dan berkreasi dengan nilai-nilai tersebut.
Nilai ajaran Islam merupakan sistem yang diwujudkan dalam amal perilaku para pemeluknya, termasuk dalam hal ini anak, peserta didik maupun masyarakat pada umumnya. Sistem nilai agama Islam adalah suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi dan mempunyai keterpaduan yang bulat yang berorientasi pada nilai Islam. Jadi bersifat menyeluruh, bulat dan terpadu
Pendidikan agama menyangkut manusia seutuhnya, ia tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama, atau mengembangkan intelek anak saja dan tidak pula mengisi dan menyuburkan perasaan (sentimen ) agama saja, akan tetapi ia menyangkut keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latihan-latihan (amaliah) sehari-hari, yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan dirinya sendiri (Darajat: 107).
Internalisasi adalah upaya menghayati dan mendalami nilai, agar nilai tersebut tertanam dalam diri setiap manusia. Karena pendidikan agama Islam berorientasi pada pendidikan nilai sehingga perlu adanya proses internalisasi tersebut. Jadi internalisasi merupakan ke arah pertumbuhan batiniah atau rohaniah peserta didik. Pertumbuhan itu terjadi ketika siswa menyadari sesuatu “nilai” yang terkandung dalam pengajaran agama dan kemudian nilai-nilai itu dijadikan suatu “ sistem nilai diri” sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku, dan perbuatan moralnya dalam menjalani kehidupan ini.
Menurut Muhaimin, tahap-tahap dalam internalisasi nilai adalah:
a.Tahap transformasi nilai, pada tahap ini guru sekedar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal.
b.Tahap transaksi nilai, yaitu suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dan guru bersifat timbal balik. Dalam tahap ini tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik dan yang buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberikan contoh amalan yang nyata, dan siswa diminta memberikan respons yang sama, yakni menerima dan mengamalkan nilai itu.
c.Tahap
transinternalisasi, yakni bahwa tahap ini lebih dalam daripada sekedar
transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan siswa bukan lagi sosok
fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya). Demikian juga siswa
merespons kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap
mental dan kepribadiannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam
transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing
terlibat secara aktif.
Jadi, internalisasi nilai sangatlah penting dalam pendidikan agama Islam karena pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai sehingga nilai-nilai tersebut dapat tertanam pada diri peserta didik, dengan pengembangan yang mengarah pada internalisasi nilai-nilai ajaran Islam merupakan tahap pada manifestasi manusia religius. Sebab tantangan untuk arus globalisasi dan transformasi budaya bagi peserta didik dan bagi manusia pada umumnya adalah difungsikannya nilai-nilai moral agama.
Pada tahap-tahap internalisasi ini diupayakan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Thoha: 94)Menyimak, yakni pendidik memberi stimulus kepada peserta didik dan peserta didik menangkap stimulus yang diberika. Responding, peserta didik mulai ditanamkan pengertian dan kecintaan terhadap tata nilai tertentu, sehingga memiliki latar belakang Teoritik tentang sistem nilai, mampu memberikan argumentasi rasional dan selanjutnya peserta didik dapat memiliki komitmen tinggi terhadap nilai tersebut.
Organization, peserta didik mulai dilatih mengatur sistem kepribadiannya disesuaikan dengan nilai yang ada.
Characterization, apabila kepribadian sudah diatur disesuaikan
dengan sistem nilai tertentu dan dilaksanakan berturut –turut, maka akan
terbentuk kepribadian yang bersifat satunya hati, kata dan perbuatan. Teknik
internalisasi sesuai dengan tujuan pendidikan agama, khususnya pendidikan yang
berkaitan dengan masalah aqidah, ibadah, dan akhlakul karimah.
3.Metode
Pembiasaan sebagai Upaya Internalisasi Nilai Ajaran Islam
Kebiasaan terbentuk karena sesuatu yang dibiasakan, sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai perbuatan atau ketrampilan secara terus-menerus, secara konsisten untuk waktu yang lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar bisa diketahui dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan, atau bisa juga kebiasaan diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya. Perbuatan ini terjadi awalnya dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan, sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.
Jadi kebiasaan di sini merupakan hal-hal yang sering dilakukan secara berulang-ulang dan merupakan puncak perwujudan dari tingkah laku yang sesungguhnya, di mana ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk mewujudkan lewat tindakan dan apabila tindakan ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan mewujudkan karakter.
Kebiasaan terbentuk karena sesuatu yang dibiasakan, sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai perbuatan atau ketrampilan secara terus-menerus, secara konsisten untuk waktu yang lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar bisa diketahui dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan, atau bisa juga kebiasaan diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya. Perbuatan ini terjadi awalnya dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan, sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.
Jadi kebiasaan di sini merupakan hal-hal yang sering dilakukan secara berulang-ulang dan merupakan puncak perwujudan dari tingkah laku yang sesungguhnya, di mana ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk mewujudkan lewat tindakan dan apabila tindakan ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan mewujudkan karakter.
Karakter itu terbentuk dari luar. Karakter terbentuk dari asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan antar manusia. Kedua unsur inilah yang membentuk karakter (Anis Matta; 67-70).
KESIMPULAN
Pendidikan agama Islam sebagai pendidikan nilai maka perlu adanya pembiasaan-pembiasaan dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, yang akhirnya akan dapat membentuk karakter yang Islami. Nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi karakter merupakan perpaduan yang bagus (sinergis) dalam membentuk peserta didik (remaja) yang berkualitas, di mana individu bukan hanya mengetahui kebajikan, tetapi juga merasakan kebajikan dan mengerjakannya dengan didukung oleh rasa cinta untuk melakukannya.
Pembentukan karakter seseorang (terutama peserta didik) bersifat tidak alamiyah, sehingga dapat berubah dan dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kaidah umum dalam pembentukan karakter seperti diutarakan oleh Anis Matta adalah sebagai berikut :
a.Kaidah kebertahapan, proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap.
b.Kaidah
kesinambungan, anda harus tetap berlatih seberapapun kecilnya porsi latihan
tersebut, nilainya bukan pada besar kecilnya, tetapi pada kesinambungannya.
c.Kaidah momentum, pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan dan seterusnya.
d.Kaidah motivasi intrinsik, jangan pernah berfikir untuk memiliki karakter yang kuat dan sempurna, jika dorongan itu benar-benar lahir dalam diri anda sendiri, atau dari kesadaran anda akan hal itu.
c.Kaidah momentum, pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan dan seterusnya.
d.Kaidah motivasi intrinsik, jangan pernah berfikir untuk memiliki karakter yang kuat dan sempurna, jika dorongan itu benar-benar lahir dalam diri anda sendiri, atau dari kesadaran anda akan hal itu.
e.Kaidah
pembimbing, anda mungkin bisa melakukannya seorang diri, tetapi itu tidak akan
sempurna. Jadi, anda membutuhkan kawan yang berfungsi sebagai guru.
Dari kaidah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain kebiasaan diberikan juga pengertian secara kontinyu, sedikit demi sedikit dengan tidak melupakan perkembangan jiwanya, dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter dengan melihat nilai-nilai apa yang diajarkan serta bersikap tegas dengan memberikan kejelasan sikap, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Memperkuatnya dengan memberikan sangsi dengan kesalahannya dan juga tidak kalah pentingnya dengan adanya teladan atau contoh yang diberikan.
Dari kaidah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain kebiasaan diberikan juga pengertian secara kontinyu, sedikit demi sedikit dengan tidak melupakan perkembangan jiwanya, dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter dengan melihat nilai-nilai apa yang diajarkan serta bersikap tegas dengan memberikan kejelasan sikap, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Memperkuatnya dengan memberikan sangsi dengan kesalahannya dan juga tidak kalah pentingnya dengan adanya teladan atau contoh yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Muhaimin dkk., Paradigma Pendidikan Islam (Bandung:
Rosda Karya, 2001)
Jalaluddin, Psikologi agama (Jakarta :
Raja grafindo persada, 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar